Pages

Showing posts with label Suara Hati. Show all posts
Showing posts with label Suara Hati. Show all posts

Orang Pintar dan Terpelajar?

Ruhut Sitompul, jurubicara Partai Demokrat ini terlalu lantang dan terkesan angkuh bersuara. Seperti yang tertulis dalam sebuah artikel di online webnews Rakyat Merdeka dimana dia menyatakan bahwa Tantowi Yahya itu orang yang gobl*k dimana saat itu dia mengecam statement Tantowi bahwa kerusuhan Mesir itu bias saja terjadi di Indonesia. Padahal saat itu bukan hanya Tantowi yang berpendapat semacam itu, bahkan Sri Sultan HB X juga menyatakan pendapat yang senada.

Kerusuhan mesir ini secara garis besar semacam copy-paste dari kejadia di Indonesia pada tahun 1998, dimana rakyat mengecam kekuasaan rezim orde baru. Mungkin anda semua masih ingat tentang kerusuhan Mei ’98, hingga berdampak pada pelanggaran HAM berat. Tapi sudahlah, disini saya tidak membahas tentang peristiwa Mei ’98, yang akan saya bahas adalah pernyataan Ruhut yang bernada kasar dan tidak sopan, dengan parameter omongan seseorang yang pintar dan berpendidikan.

Dalam pernyataannya itu, Ruhut menantang taruhan potong kepala; jika kerusuhan itu sampai terjadi juga di Indonesia, maka Ruhut berani potong kepala, namun jika kerusuhan itu tidak terjadi maka Sri Sultan dan-atau Tantowi harus memotong kepalanya. Waduh, ini omongan semacam omongan preman pasar yang mungkin tidak katam SD, bahkan mungkin seorang preman saja tidak akan bertaruh seperti itu. Apakah itu cerminan perilaku dari seorang yang terpelajar? Kalau iya, wah… berarti Indonesia harus meninjau lagi kurikulum pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Kontroversi kedua yaitu, pernyataan Ruhut tentang SBY, bahwa “63% rakyat Indonesia itu mendukung dia sebagai pemimpin. Jadi tidak mungkin goyah periode pemerintahan SBY ini.” Ah, bang Ruhut, anda selama 2 tahun ini pergi melancong kemana? Masa seorang juru bicara bias tertinggal informasi kalo SBY mulai diserang dengan yang namanya penyakit MABUK KEKUASAAN dan MABUK PENCITRAAN.

Dulu, pada tahun 2009, rakyat memang mendukung dia sebagai presiden, karna disuguhi fakta media tentang suksesnya pemberantasan korupsi. Tapi mulai sekitar tahun 2010 akhir, dia ini sibuk dengan pencitraan dan pengalihan isu, yang pada akhirnya kami simpulkan bahwa dia ini tidak ingin boroknya terbuka. Yang namanya orang kalau sudah mabuk pencitraan, pasti akan menutupi segala kekurangannya. Logikanya seperti ini: ketika malam minggu datang, anda berpakaian rapi, yang biasanya jarang mandi pasti akan mandi sampe menggunakan setengah isi dari botol sabun cair. Memakai wewangian minyak rambut dan segala macam aksesorisnya. Ini menandakan dia sedang menutupi kekurangannya, mana ada seorang kekasih yang ingin terlihat buruk didepan pujaan hatinya? Betul kan???

Bahkan, sampai-sampai menutupi jumlah angka kemiskinan, apa ini cirri seorang pemimpin yang baik? Jika hal semacam ini berlangsung terus menerus, rakyat yang dipimpinnya akan melakukan kudeta, semacam peristiwa Mei ’98. karna kami sudah muak dibohongi.

Anda mungkin enggan berkomentar tentang 85% pimpinan daerah yang melakukan tindak pidana korupsi. Karna saya tahu bahwa ini diluar wewenang anda sebagai juru bicara, yang hanya di beri otoritas untuk menganalisa kejadia dan menginformasikan kepada media tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam tubuh Partai Demokrat. Tapi lihatlah, jika semua kepala daerah ini masih saja mengeruk kekayaan untuk kepentingan golongan dan individu, maka saya jamin, masyarakatnya pasti akan melakukan kudeta.

Sebenarnya ada solusi yang patut untuk dicoba, contohnya:
1. Tentang pencalonan presiden, selama ini presiden kita di usung dari parpol pemenang pemilu. Alangkah baiknya jika kita mencoba menerima calon presiden independen, tanpa usungan dari parpol tertentu, kenapa? Karena banyak hal, yang pertama, modal yang dikeluarkan untuk mencalonkan diri ini terlalu besar untuk individu, jadi kebanyakan dari mereka mencari donasi dari pengusaha-pengusaha besar. Yang nantinya imbal baliknya adalah segala macam jenis kemudahan dan imunitas hukum pidana atau perdata yang mungkin nanti akan dilanggar. Yang kedua, kepentingan golongan. Kenapa kepentingan golongan? Anda tahu, visi dan misi perpol pemenang pemilu adalah menguasai 2/3 kursi di legislatif dan yudikatif. Jika seorang presiden adalah dari pemenang pemilu dan didukung 2/3 jumlah anggota legislatifnya adalah pertai pemenang maka presiden ini nantinya akan jadi semacam alat politik untuk partai tersebut. Dengan tujuan untuk melancarakan segala urusan yang berhubungan dengan kemuliaan partanya tersebut.

Jika modal untuk mencalonkan adalah hal terberat bagi calon independen, maka anda dapat mencontohnya dari tindakan Barack Obama, dimana dia memanfaatkan teknologi untuk menggalang dana. Jadi dana yang dia gunakan untuk kampanye secara tidak langsung adalah murni donasi rakyat, dan disini pun harus ada pembatasan nominal donasi, yang nantinya tidak akan menjadi polemik setelah pelantikan presiden. Jadi dalam dirinya akan tumbuh rasa tanggung jawab terhadap rakyat, bukan terhadap parpol ataupun sponsor (dalam hal ini adalah investor).

2. Adalah tentang biaya maksimal kampanye. Selama ini fakta yang terjadi adalah penggunaan biaya kampanye yang jauh melebihi kemampuan individu, bahkan ada yang bisa mencapai 60 Milyar Rupiah. Waw…bayangkan jika ini dikeluarkan oleh seorang kepala daerah, dengan gaji yang hanya sekitar Rp. 6.000.000,- per bulan (sumber dapat dipercaya, yaitu anggaran gaji kepala daerah istimewa Yogyakarta). Bayangkan dengan gaji yang hanya berkisar di angka segitu, dan biaya kampanye yang telah dikeluarkan adalah sekian milyar, dengan masa jabatan yang tak lebih dari 5 tahun. Secara ekonomi, mau dapat BEP-nya kapan? Soalnya, dimanapun pasti yang akan kita kerjar duluan adalah BEP-nya. Benarkan?

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan, namun mengingat ini hanyalah sebuah blog, yang jika terlalu banyak isi dalam satu artikel cenderung membuat orang jenuh untuk membacanya, jadi ya saya cukupkan sekian saja. Mungkin dilain hari dan kesempatan akan saya lanjutkan. Terima kasih saya ucapkan bagi yang sudah menyempatkan diri untuk mendengarkan obrolan angkringan ini. Apapun yang terjadi, mari kita jaga rasa cinta kita terhadap Negara Indonesia, karna disinilah kita lahir, tumbuh dan mungkin disinilah kita nanti akan disemayamkan….
-Aku Cinta Indonesia-
more

Demokrasi = Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat ??

Pertama kali saya mengenal istilah Demokrasi adalah di hari pertama saya masuk kelas Tata Negara pertengahan tahun 2000. saya masih ingat saat itu masih berseragam putih abu-abu dengan guru Tata Negara yang bernama Bapak Rudi. Semua istilah tentang kenegaraan saya pelajari disana. Dan nilaiku pun tergolong lumayan lah (hitungan rata-rata per kelas).

Demokrasi, meminjam istilah dari Negara yunani. Yaitu Negara penggagas dan penganut system ini untuk pertama kalinya. Demokrasi ini terdiri dari dua kata yaitu demos dan kratos. Demos artinya rakyat dan Kratos adalah kekuasaan. Yang pada garis besarnya, bisa kita tarik garias kesimpulan, kekuasaan “dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.”

Jadi kalau hendak dijabarkan akan menjadi seperti berikut: Kekuasaan yang berasal dari rakyat, dijalankan oleh rakyat, dan diperuntukkan untuk rakyat (dikembalikan untuk rakyat). Inilah yang saya pelajari dari saya duduk di bangku SMU, kira-kira ya 11 tahun yang lalu.

Lantas saat itu kami diberikan satu tugas untuk menjabarkan apa itu dan bagaimana proses demokrasi itu berlangsung. Hal pertama yang kami lakukan adalah memahami apa itu demokrasi. Ketika saya melihat sususan kata Demos dan Cratein, hal pertama yang muncul dalam benak saya adalah, kekuasaaan rakyat, yang pada dasarnya adalah kekuasaan yang bersumber pada rakyat. Dimana pemimpinnya dipilih oleh rakyat, jadi bukan seluruh rakyat yang ada dalam Negara penganut paham ini yang memimpin, tapi seseorang yang disebut presiden. Dimana presiden ini hanya satu pewakil dari sekian milyar masyarakatnya.

Lantas apa yang dilakukan presiden. Yah, sebagai pemimpin dia adalah pengambil keputusan utamanya. Dimana keputusan itu asalnya dari aspirasi-aspirasi rakyat yang dipimpinnya. Tidak mungkin kan diantara sekian milyar itu kompakan mempunyai aspirasi yang sama, misalnya 10% mempunyai pikiran model A, lantas yang 90% juga punya yang model A. pasti diantara 90% tersebut ada yang memiliki model B, C, D dll. Nah disitulah dia memainkan perannya, menimbang baik-buruknya model A, maupun model-model yang lain dan lantas mengambil satu keputusan tentang model-model tersebut.

 Lantas apa yang terjadi pada system demokrasi di Indonesia?

 Semenjak tahun 90an (-orang kebanyakan menyebutnya Orde Lama-) system demkorasi kita ini sudah bergeser dari norma resminya. Ketika wakilnya yang duduk di legislative mengusung calon presiden (pemimpin) maka mulai saat itu presiden bertanggung jawab (mempertanggung jawabkan) kedudukannya kepada legislative bukan kepada rakyat lagi. Jadi apapun dilakukan untuk kemakmuran legislative, bukan kemakmuran rakyat. Seiring waktu, dimana pada saat itu kekuasaan presiden dan lamanya periode kepemimpinan belum ditur oleh undang-undang, walhasil kekuasaan pun menjadi tak terbatas. Hingga 32 tahun lamanya presiden orde lama berkuasa. Dan pada saat itu pun legislative berjalan menyamping, menjadi semacam bawahan seorang presiden. Seharusnya, seorang presideng bertanggung jawab terhadap legislative, dimana legislative ini adalah perpanjangan tangan rakyat Indonesia. Jadi ya, anggota dpr itu menurut saja apa kata presiden, hebat ya presidenku. Sehingga system demokrasi kita pada jaman orde lama bergeser menjadi monarki. Dimana Negara bersistem monarki ini dipimpin oleh seroang raja, yang hanya bias digantikan oleh keturunannya. Untungnya, sebelum demokrasi kita ini luntur, mahasiswa 98 mampu menggulingkannya. Salut kepada kakak-kakak 98.

Setelahnya, Negara ini sempat berganti pemimpin beberapa kali (disebutnya Orde Baru). Hingga saat ini, periode kepemimpinan SBY-Boediono.
Satu hal yang berbeda dari periode kepemimpinan presiden kita yang satu ini adalah proses pemilihannya. Kalau dulu pemilih hanya melakukan prosesi pemilihan partai yang nantinya memiliki kursi terbanyak di legislative. Sedangkan sekarang. Kita bias memilih langsung siapa presidennya, walopun masih diusung dari parpol pemenang pemilu. Jadi prosesi pemilihan presiden kali ini lumayan lama.

 Adakah yang membedakan orba dengan orla?

 Selain beberapa hal diatas, yang lainnya adalah kesamaan. Yaitu sama-sama belum bertanggung jawab terhadap rakyat. Presiden kita yang terakhir ini masih belum bisa bertanggung jawab terhadap rakyat, soalnya dia ini adalah boneka dari investor-investor yang dulu memberinya modal untuk berlomba menjadi calon presiden.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika dua pertiga suara DPRD Yogyakarta dan juga hampir 93% rakyat Jogja menolak RUUK, dia masih saja menggulirkan draft RUUK ke DPR pusat. Lantas apa gunanya anda itu dipilih? Kalo hampir 93% menolak, kenapa tidak anda pertimbangkan lagi sebelum mengajukan draft tersebut? Yang membuat saya semakin heran nanti, jika saja draft RUUK itu disetujui oleh DPR, hey, RUUK itu kan tentang Jogja, lha kalo suara 2/3 (dua per tiga) anggota DPRD Jogja saja tidak anda dengarkan, lantas apa gunanya ada DRPD? Mendingan bubarkan saja…

Trus apa istimewanya demokrasi orde baru?

Kalau ditanya apa istimewanya, ya… itu loh presiden yang kita pilih, secara langsung bro, kalau misalnya ternyata dia lalim jadi ya termasuk kita juga memilih yang lalim. Kalo dia memang baik ya kita ikut bangga kan, dan merasakan hikmahnya punya presiden baik yang BENAR-BENAR mementingkan rakyatnya. Mending golput saja…hehehehehe

Lantas apa presiden kita yang sekarang ini istimewa baiknya?

Waduh… kalo ditanya soal itu, dari pandangan saya. Presiden kita ini baik orangnya. Ndak suka marah, ndak suka memulai konflik, terbuka (baca-Suka Curhat Publik) dan murah senyum. Tapi apa yang mampu dia berikan kepada rakyatnya, saya kira belum ada.

1. Karna dia ini terkesan lamban dalam mengambil keputusan, bayangkan jika dia ini ayah anda. Ketika anda lapar, ayah yang harusnya mampu menyuapi anda tapi masih berpikir “suapi apa nggak ya, trus klo disuapin pake apa, nanti hasilnya akan seperti apa? Duh gimana ini” ya keburu matek anakmu pakdhe….

2. Karna beliau ini tidak pernah tegas dalam hal apapun. Masih ingat dalam benak kita. Ketika Negara ini di usik tetangga, Malaysia. Beliau ini terkesan cuek bebek, dan bertele-tele dalam menghardik tetangga. Analogikan hal ini, keluarga anda punya warisan satu hektar tanah, tetangga anda yang usil menggeser patok penanda batas tanah, apa anda akan diam saja? Sekarang anda ganti keluarga itu menjadi Negara Indonesia, dan warisan berupa tanah itu anda ganti dengan budaya leluhur. Maka anda akan tahu gimana harus bertindak. Sekarang bandingkan dengan pak Sri Boboho Yudoyono… belum lagi kasus si pengemplang pajak “GAYus –perut- Tambun”. mBe(k)liau ini lamban sekali. Padahal dia ini seorang presiden. Dia punya hak untuk mengucapkan “selesaikan kasus GAYus dalam waktu 3 bulan” pasti semua yang terkait akan bekerja lebih maksimal. Termasuk kapolri, satgas mafia hukum dan kejaksaan. Tapi kenapa dia membiarkannya? Bandingkan dengan wakil presiden kita yang lalu bapak JK. Dia berani mengucapkan “cepat selesaikan kasus bank century !” dan ternyata cepat selesai kan… memang lucu pak boboho ini.

3. Beliau ini kurang berani dan suka curhat didepan publik, termasuk rahasia yang memang benar-benar clasified. Masih ingat ketika dia terpojok masalah Bank Century, apa yang dia lemparkan sebagai pengalihan isu? Ya… Terorisme. Dimana saat itu dia memegang foto dirinya sedang dijadikan latihan tembak oleh teroris. Hey dude itu kan hasil investigasi Badan Intelejen Negara, kenapa enteh bocorin. Kalo enteh bocorin, ya percuma dunk anak-anak intel kerja banting tulang. Kamu pikir ini negara mbah mu apa, dimana kepentingan dan keselamatanmu saja yang harus dijaga. Lha gimana nasib intel-intel yang ditebar??? Beranilah sedikit menghadapi isu yang mengaitkan dirimu, jangan malah melempar isu yang tak sedap lainnya. Lagipula, ndak ada yang lainya selain terorisme ya? Coward…..!!!!

Ahhhh, sudahlah. Seperti kata negarawan yang sudah tua yang maaf saya lupa nama bapaknya itu. “Negara kita ini sebenarnya sudah sekarat, tidak usah diperbaiki. Orang kita tinggal nunggu hancurnya saja kok.” Ya walaupun sudah sekarat, saya masih ingin melihat senyumnya untuk beberapa saat lagi. Whatever it takes I’ll do my best for Indonesia, jadi kalopun hancur hancurlah dengan sedikit senyuman, buakn dengan banyak keterpurukan.
--Aku Cinta Indonesia--
more

Aiiihhhh....Lucu Kali Negeriku Ini...

Jika mengingatnya aku ingin tertawa, benar-benar lucu sekali negeri ku ini. Mulai dari pemimpinnya yang lucu kaya pelawak panggung yang gagal ngelucu dan gendut kaya Bobo Ho, pengecut kaya tikus rumahan yang slalu lari tiap denger pintu berdecit karna dibuka hingga tukang curhat seperti artis sinetron berrating rendah. Aihhh lucu pokoknya piminan ku ini.

Belom lagi orang-orang yang ada disini. Bener-bener lucu deh. Lihat aja, tiap kali keinginannya tidak dipenuhi mereka protes, berontak hinga kejar-kejaran sama aparat berseragam sambil membawa senjata yang terhunus. Aihhhhh lucu kali…..

Sebut saja mahasiswa, yang namanya mahasiswa itu adalah seorang SISWA yang dituntut menggunakan akalnya yang serba MAHA, MAHA dewasa dibandingkan anak SD, serta ilmu pengetahuannya yang MAHA maju dan luas jika dibandingkan dengan siswa SMU. Dan pastinya tiap menghadapi masalah itu dengan kepala dingin dan menggunakan kemampuan berdiplomasi dan bernegoisasi (yang lagi-lagi katanya MAHA lebih), bukannya dengan tenaga dan nafsu setan. Ckckckckck….apa itu mencerminkan tingkah laku seseorang yang berpendidikan serba MAHA, serba tinggi? Aihhhhh…….

Belom lagi masyarakatnya (PKL). Ditertibkan kok malah melawan, memaki serta mengejar aparat dengan membawa senjata tajam….ckkckckckckckck
Mereka itu Cuma aparat, Cuma pion, yang dibalik baju seragam itu, mereka juga pasti ada rasa berat hati dan tidak tega menggusur tempat mencari nafkah kalian. Memang tidak semua tempat baru yang disediakan itu menjamin kesuksesan kalian dalam berjualan. Tapi….seiring waktu berlalu, oang-orang pasti akan menuju tempat kalian berjualan, berbelanja dan berwisata ditempat kalian.

Baru-baru ini, berita televisi yang menggemparkan. Seorang warga yang tak mempunyai riwayat pidana ataupun tindakan kriminal lainnya menjadi tahanan di rutan klas IIa di Bojonegoro. Ya…kalo istilah media sih jadi joki tahanan. Tahanan kok bisa dijoki, ini negri yang lucu yaa….
Ada juga kelakuan orang yang tak mau bertanggung jawab menerima resiko atas kejahatan yang dilakukannya. Malah membayar orang untuk menerima akibat dari kejahatannya. Kalo kata yang bersangkutan sih, lantara terlilit hutang yang serba banyak jadi berpikiran pendek. Menerima tawaran untuk menjadi joki tahanan dengan bayaran Rp. 10.000.000,-, bayangkan menukar kebebasan demi uang 10 juta  guna membayar hutang, lucu ya…. Serba instan, mungkin itu yang ada dibenak merka adalah jalan pintas yang membawa mereka kedalam kebebasan yang pintas juga.

Seperti yang kerap terjadi, seorang pemuda pengangguran yang ingin menikahi seorang gadis. Seorang pengangguran udah kebelet kawin, waduh yang ada dibenaknya pasti gimana caranya untuk dapat duit sebagai biaya pernikahannya. Jalan paling pintas ya, jadi maling.
Aihhhhh, kalo mau nikah ga ada biaya ya ga perlu ada resepsi, cukup siding KUA aja kan biayanya ga lebih dari 1 juta. Dan mas kawin kan juga bias dihutang, kalo emang bener-bener kebelet. Toh juga dalam agama (dalam hal ini Islam) menghalalkannya kok.

Atau yang paling lucu dari semuanya. CUTI TAHANAN. Bayangkan, seorang narapidana yang ditahan didalam rutan, kok bisa-bisanya CUTI. Weh kaya kerja aja boss bisa cuti. Contohnya bang Gayus pegawai depkeu bagian perpajakan. Enak kali dia, masuk penjara dengan masa hukuman berpuluh tahun, bebas keluar masuk penjara untuk sekedar liburan keluarga di Bali. Jangan jangan anda juga sering keluar negeri juga pak ya? Hihihihihihi
Kalo udah gini pak, siapa yang harus bertanggung jawab atas kelakuan Bung Gayus ini? Kepala rutan, pengacara, penjaga tahanan atau siapa?

Aihihihi…. Lucu kali kalo mengingat hal-hal diatas. Itu baru sebagian kecilnya saja yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal ketika membayangkannya. Keragaman kejadian diluar nalar dan norma kebiasaan ini berbanding lurus dengan keragaman budaya dan suku di negaranya sendiri. Hebat……

Rupanya hukum dan norma-norma dimasyarakat itu memang kurang (atau malah tidak) dihormati. Yahhhh, namanya juga Uang yang sudah jadi Tuhannya. Kalo sudah seperti ini hukum, norma, dan dosa pun jadi nomer yang ke seratus sekian. Yang penting rekening bank, deposito, dan investasinya terus berkembang ya Pak / Bu….tapi tolong anda ingat, Tuhan Kita tidak tidur pak…. Serapi apapun kerja bakti anda dalam kejahatan, pasti pada akhirnya Tuhan akan menunjukan kepada anda dan khalayak ramai tentang hokum, karma dan dosa….

Lucu, menghibur dan banyak mengandung hikmah, itulah negeriku Indonesia…..
Aku cinta Indonesia…
more

Surat Buat Bang Ical

(*sebuah curhatan dari seorang kawan yee-haw*)

Bung Ical yang terhormat,
Saya percaya anda lebih berkuasa dari presiden di negara ini
Sri Mulyani anda singkirkan dan mengungsi dari tanah kelahiran yang dicintainya
Satgas anda bungkam sehingga tak lagi bersuara
Kepolisian dan Kejaksaan anda injak saat mereka menangani sang perampok: gayus
sehingga anda pun tidak akan terkait dengan kebusukannya

Saya percaya anda juga telah menebar magnet kharisma anda yang bernama rupiah di petinggi PSSI
Juga menanam sanak keluarga, handai taulan di tempat ini: Nirwan, Nurdin Halid, Andi Darussalam..
Tapi biarkan olahraga yang satu ini tetap menjadi milik kita, jangan anda rebut lagi
Anda boleh menguasai yang lainnya, apapun atau siapapun yang bisa anda beli dengan kekayaan anda

Kami tidak peduli anda menjadi ketua partai dengan cara membeli orang-orang yang sekarang menjadi pembela anda nomor wahid
Tapi tolong jangan anda kotori kesucian olahraga ini

Bung Ical
Anda bisa memiliki segalanya, tapi jangan yang satu ini
Biarkan ini tetap menjadi milik kami
Biarkan kami meneriakkan gairah kami pada permainan yang satu ini
Bagi kami inilah ekstasi untuk sejenak melupakan kepenatan kami atas kerasnya hidup yang mungkin
tidak pernah anda rasakan sejak anda menghirup udara di dunia ini
Biarkan kami meneriakan nama-nama pahlawan kami kami: Bambang Pamungkas! (bukan bambang soesatyo), Markus Horison! (bukannya (melchias) markus mekeng), Firman Utina! (tidak firman
soebagyo)

Bung Ical
Tidak kah anda melihat dan cemburu karenanya?
Bagaimana kami melonjak, berteriak dan tersenyum bahagia sekedar dapat melihat pujaan kami
Kami teriakkan nama-nama mereka dengan cinta tanpa pamrih rupiah
Irfan Bachdim!!! Christian Gonzales!!! Okto!!
Saat ini mereka adalah pahlawan kami
Pahlawan dengan parfum keringat yang menetes, bukannya armani
Pahlawan yang berkaus basah dan bercelana pendek, bukan pahlawan dalam setelan jas dan dasi
Pahlawan di lapangan rumput, tidak di gedung berpendingin ruangan di senayan

Tidak kah bung bertanya, mengapa kami menjadikan mereka pahlawan?
Karena mereka mencoba dengan sekuat tenaga, dengan keringat dan air mata membuat kami bahagia
Oleh karenanya, apapun hasil perjuangan mereka, nama mereka akan selalu lekat di hati kami,
mereka tetap pahlawan kami
Kami pun bahagia menjadi bagian dari perjuangan mereka, walau sekedar teriakan penyemangat
Akan kami ceritakan saat-saat perjuangan mereka kelak kepada anak cucu kami

Bung Ical
Anda berkeinginan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini kelak
Oleh karena itu jangan biarkan remah-remah simpati yang tersisa pada kami lenyap
Anda mungkin ingat ungkapan : "we may forgive, but we'll never forget"
Kami tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kami akan ingat selamanya :Lapindo, penggelapan pajak...
Jangan anda tambah kekecewaan kami dengan merebut permainan ini dari kami
Jika anda ingin mendapat sedikit ucapan terima kasih dari kami
tolong anda bisikkan sesuatu kepada Nurdin agar ia segera menyingkir dari olahraga ini

Terima kasih bung Ical
more

POLITISASI DI SEGALA BIDANG.


sekali lagi, saya bangga berbangsa INDONESIA.

Satu hal yang membuat saya bangga, kami ini tak kurang akal untuk sekedar mencari celah agar bisa maju. Selalu saja ada kesempatan disegala bidang. Bukan hanya dalam hal positif tapi juga dalam hal yang negatif.

Anda tak percaya. mari kita mulai memilahnya satu persatu.

Pernah anda datang ke kantor atau ke sekolah bahkan ketika orang sedang berjualan dipasar. Pastinya anda melihat satu kesempatan untuk maju. ya jika di kantor, anda punya waktu untuk sekedar ngobrol dengan bos, anda lobi-lobi. tiba-tiba anda dapat sekedar proyek yang bagi bos anda kecil tapi bagi anda merupakan kesempatan besar untuk berkembang. atau ketika anda sedang ujian di kelas. anda terpojok dengan soal yang benar-benar anda benci. tiba-tiba ada satu kesempatan untuk mencontek. di akhir smester anda lulus denga nila yang yahhhh bisa dibilang memuaskan lahhhh...nah disini anda terbukti sudah memanfaatkan kesempataan yang ada dengan maksimal. kalo di pasar ya... anda byangkan sendiri lah, gimana hiruk pikuk kehidupan pedagang di dalam pasar tersebut.

hal ini berlaku juga buat para politisi yang, yah saya bilang, TAK TAHU MALU. kenapa? he he he...
coba anda tengok ketika kejadian bencana alam Merapi kemaren hari. mulai dari jalan Ring-Road utara Yogyakarta (arah ke Kaliurang) anda pasti melihat segala jenis umbul-umbul yang mengusung nama tokoh parpol tertentu, atau mengusung nama parpol tertentu. disini saya tidak harus menyebutkan satu persatu, nggak etis menurut saya. memprihatinkan memang, disatu sisi kami yang sedang tertimpa musibah bencana alam, mengharapakna uluran tangan yang ikhlas untuk menyelamakan jiwa kami, lha kok disisi lain mereka yang menolong kami malah membawa spanduk bergambar senyum pepso**nt. hal inilah yang membuat Kanjeng Sultan Geram. lha kami ini sedang tertimpa musibah, kenapa malah jadi ajang berkampanye ria semacam ini.

sbenaranya mereka ini dulu pernah belajar agama ndak sih? kan kalo dalam hukum islam, yang namanya menolong itu hendaknya "tangan kiri tidak boleh tahu" lha ini..... malah terang-terangan mengumbar...holoh-holoh-holoh...
dalam hal ini kami sudah memakluminya, kenapa? karna sudah kerap terjadi bukan hanya di Yogyakarta saja melainkan setiap ada tragedi bencana alam. dan memang pada dasarnya mereka kan ndak tahu malu. he he he...setiap ada kesempatan untuk unjuk gigi, ya manfaatkan. kalo ndak ada cara yang sehat, yaaa cara licik semacam ini pun jadilah. TAPI...mbok ya tolong jangan BIKIN MALU KAMI.

kepada pak Sri Bandrio Yahut, Abdul Bak'r, Nurmin Halid, dan gerombolan si berat lainnya. pak...kami benar-benar malu, saat spanduk sepanjang 3X2 meter terpasang sempurna di stadion Bukit Jalil malaysia. ckckckckckckckck BIKIN MALU SAJA.
dalam hal sepakbola, apa sumbangsih anda semua itu? saya rasa ndak ada.
Pak Sri Bandrio Yahut bilang, "saya mendukung timnas bertanding hingga final"
pak Abdul Bak'r berseloroh, "saya juga mendukung timnas"
pak Nurmin Halid dan gerombolan si berat, "kami mendukung dan mempersiapkan timnas."

ahhhhh, kalo soal mendukung, kami lebih jago loh pak. kalo soal mempersiapkan, heyyy anda bukannya mempersiapkan, anda justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan partai anda sendiri. mbok ya tahu diri lah...
saya pernah mendengar desas-desus (yang padahal itu bukan hanya kabar burung) kalo selama pertandingan AFF di GBK, para supporter dilarang membawa sepanduk/bendera/poster yang tidak berhubungan dengan sepakbola. lha terus apa yang mereka bawa di Bukit Jalil? postcard ya? bukan poster kan?

sekedar grundelan saja loh ini pak. ndak semua hal bisa anda manfaatkan untuk unjuk gigi semacam ini. ada waktunya dimana anda bebas berexpresi tanpa bikin malu kami. ada waktunya kesempatan itu baik untuk dimanfaatkan, dan ada masanya dimana kesempatan itu justru jadi boomerang bagi anda dan kami. mohon, saya mohon jangan rendahkan rasa bangga kami terhadap Indonesia.

T_E_R_I_M_A  K_A_ S_I_H
more

Curhatan Rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat

Ini adalah curhatan teman saya tentang rumah kami, Jogjakarta...

INI RUMAH KAMI
by : Indiah Wahyu Andari

Saya kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan teman lama saya Mas Widiyanto tadi pagi : hmm... kenapa kamu mendukung penetapan Ndar?

Walah, ya sebenarnya ada banyak hal di hati dan pikiran saya, yang kalau diocehkan akan menjadi panjang lebar. Tapi saya jawab secara sederhana sajalah : saya mencintai Keraton, karena itu adalah simbol kultural saya—atau kami, warga Jogjakarta. Saya membela kekuasaan formal melekat pada Sri Sultan, karena itu menjadi bagian dari harga diri dan martabat kami sebagai orang Jogja.

Jaman memang sudah berubah. Raja kami ini—Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengalami yang namanya jaman edan. Kondisi kacau luar biasa. Maka kami maklum saja jika ada satu dua tindakannya yang mungkin lebih bersifat kompromi pada keadaan. Kami tahu, Ngerso Dalem memiliki banyak kekurangan. Tapi itu tidak mengurangi kecintaan kami Orang Jogja kepada beliau. Sederhanya, kalau orang tua kita jelek, apakah lantas itu menjadikan alasan bagi kita untuk meninggalkan mereka? Kan tidak. Baik-buruk ya tetap orang tua kita. Sudahlah untuk soal itu, biar menjadi urusan rumah tangga kami orang Jogja. Orang lain tidak perlu ikut campurlah.

Saya ini orang Jawa, tahunya manusia itu punya sisi rumongso—tahu diri. Indonesia itu apa ya tidak punya rasa rumongso, dulu kelahirannya dibantu penuh oleh Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dengan penuh pengorbanan baik itu jiwa, materi, dan moril sebagai negara merdeka yang berdulat. RRI Jogjakarta—atau dulu bernama radio Jogja—adalah radio yang pertama kali menyiarkan kabar proklamasi ke seluruh penjuru dunia. Lewat kabar udara dari sebuah negara berdulat tersebut, mata dunia terbuka.

Tidak cukup itu. Raja kami, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, menurunkan egonya dari bangsa yang merdeka berdaulat, menjadi bangsa yang berada di bawah kekuasaan republik. Apa ya Indonesia tidak ngrumangsani, Raja kami hanya mengeluarkan maklumat—bukan sabda—yang menjadi dasar integrasi tersebut. Artinya, kami rakyat nagari Ngayogyakarta Hadiningrat pada waktu itu masih memiliki keleluasaan untuk tidak mengindahkan maklumat ini, jika tidak setuju. Tapi rakyat Jogja, dengan kesetiaan penuh pada Keraton secara total mematuhi isi maklumat.

Sejak saat itu rakyat Jogja merasa menjadi bagian dari rakyat Indonesia. Indonesia juga apa tidak ngrumangsani, dengan berintegrasinya Keraton Jogjakarta ke dalam tubuh republik, itu menjadi kiblat dan starting point bagi kerajaan-kerajaan lain di seluruh nusantara yang tadinya masih enggan menggabungkan diri.

Dukungan itu bahkan dalam bentuk mempersilahkan Jogjakarta menjadi ibukota republik tahun 1946. Semua proses pemindahan hingga menetap di Jogja, bahkan seluruh gaji Presiden dan para pejabat negara didanai oleh keraton. Sri Sultan HB IX tidak bersedia menyebutkan berapa total nominal pembiayaan tersebut. Yah, tentu saja. Apa ya kalau kita menolong orang harus mengumumkan berapa rupiah yang kita keluarkan untuk membantunya? Namun konon jumlah keseluruhannya mencapai angka 5 juta golden pada waktu itu. Berapa nilainya sekarang?

Tentunya perpindahan itu juga tanpa resiko. Jogja, menjadi berpotensi memperoleh serangan dari Belanda sewaktu-waktu. Dan terbukti, Belanda kembali menyerang Jogjakarta, hingga terjadi pertempuran pada 1 Maret 1949 yang dikenal sebagai peristiwa Enam Jam di Jogja. Jangan dikira rakyat Jogja tidak berkorban sama sekali. Pertempuran tersebut adalah bukti nyata kesetiaan dan pengorbanan warga Yogya untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada! Tidak usah jauh-jauh. Kakek saya almarhum pun mengalami luka tembak pada lengan bawahnya yang menyebabkan lengannya berlubang seumur hidup.

TITIK BALIK

Baiklah, jika itu semua tidak berarti. Lupakanlah. Anggap saja semua itu pengorbanan yang memang seharusnya dilakukan oleh daerah di republik ini guna memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Jadi pertanyaan saya, kenapa Jogjakarta yang sudah ratusan tahun adhem ayem di bawah Keraton, harus diobok-obok dengan polemik RUUK ini? Bukankah sama sekali tidak ada alasan ancaman keamanan berarti bagi Indonesia di propinsi ini?

Maka semalam, saya trenyuh mendengar ceritanya. Sebenarnya tidak mengejutkan jika motif ekonomi ternyata kuat mempengaruhi polemik ini. Namun saya lupa, Jogjakarta baru saja dibukakan matanya oleh Gusti Allah, bahwa dia memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah. Saya ambil dua contoh mencolok. Pasir Merapi dan Pasir besi Kulonprogo. Lha wong cuma pasir lho ya, pasir! Itu sudah membuat orang-orang sok bicara sistem pemerintahanlah, konstitusi, monarki, sejarah, ah, omong kosong!

Sebagai gambaran, pasir Merapi butuh waktu 80 tahun untuk menghabiskannya secara manual. Pasir Merapi memiliki kualitas pasir terbaik di dunia. Sedangkan pasir besi Kulonprogo, hanya ada dua di dunia ini yang memiliki potensi sebesar itu : New Zealand dan Kulonprogo. Dan hanya ada satu tempat pengolahan, yaitu New Zealand. Di Kulonprogo rencananya akan segera dibangun tempat pengolahannya juga. Tentu Saja New Zealand kalang kabut kalau itu terealisasi.

Jadi semua ulasan historis-kultural itu menjadi penghias saja. Isu monarkhi-konstitusi juga dibuat-buat saja. Secara pribadi, jujur saya lebih senang jika uang itu mengalir ke Keraton. Sri Sultan HB X pernah membuka dalam suatu wawancara di televisi. Propinsi DIY ini, dari pemerintah pusat hanya memperoleh dana 80 juta rupiah per tahun. Bayangkan! Itu pun Keraton masih harus menyelenggarakan grebeng, sekaten, labuhan, dan acara-acara budaya lainnya. Tentunya dana tersebut hanya cukup untuk biaya rumah tangga Keraton saja. Dan tidak ada bantahan dari pusat tentang jumlah dana tersebut.

Saya jadi maklum jika Keraton musti merintis bisnis dimana-mana. Lagipula sekaya-kayanya orang Jogja asli, gaya hidupnya ya tetap sederhana. Saya orang Jogja, jadi maklum sekali. Kearifan budaya Jawa mendidik masyarakatnya untuk tidak mementingkan diri sendiri dan saling peduli satu sama lain. Anda kira siapa yang menghaluskan jalan-jalan kampung di dusun saya? Kami sendiri, masyarakat swadaya, dengan bantuan pemda. Siapa yang memberi nasi bungkus tiap hari pada para pengungsi Merapi? Sahabat saya yang tidak mengungsi mendapat instruksi Pak Dukuhnya untuk membuat tiga nasi bungkus setiap hari, dan itu terjadi di seluruh penjuru Jogjakarta. Anda kira siapa yang menyediakan rumah bagi keluarga saya untuk mengungsi? Sebuah keluarga kenalan Paman saya. Hanya kenalan! Dan setelah itu kamu menjadi saudara.

Itu baru rakyatnya. Kami hanyalah meneladani para pemimpin kami di Keraton. Bayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan Keraton untuk ngemong masyarakat Jogja yang 2 juta orang itu? Menjaga kondisi budayanya agar tetap terpeliara.

Dua puluh ribu orang turun ke jalan tanpa ada kerusakan sama sekali. Para mahasiswa dari berbagai suku bangsa di seluruh penjuru Indonesia tinggal di satu atap kos tanpa ada keributan berarti. Para pengendara dengan plat nomer dari berbagai daerah berjubel di jalanan sempit Jogja tanpa ada kericuhan lalu lintas. Di sini Gereja-Masjid-Klentheng dibangun berdekatan. NU-Muhammadiyah hidup rukun berdampingan. Jangan dikira semua itu terjadi begitu saja. Itu terjaga berkat kondisi kultural masyarakat Jogja yang juga dijaga oleh eksistensi Keraton. Kami masyarakat simbolik, tak rela jika simbol pengayom kami diinjak-injak. Apa ya pantes seorang Raja mengajukan curiculum vitae untuk menjadi pemimpin di tanahnya sendiri? Bukankah itu penghinaan terhadap martabat dan harga diri rakyatnya?

Menurut Simbah kakung saya, Raja itu berbeda dengan gubernur atau presiden. Kalau gubernur atau presiden, itu tidak beda dengan saya, anda, ya hanya orang biasa. Dia bertanggung jawab pada orang-orang yang milih dia saja. Artinya, secara moral, dia tidak memiliki sistem di dalam dirinya untuk bertindak dengan mekanisme moral tertentu. Kalau para pemilihnya tidak tahu dia korupsi, ya terabas saja. Berbeda halnya dengan raja, raja memiliki kedaulatan dari Tuhan—sebutlah itu takdir. Ibaratnya merupakan perwakilan para dewa di dunia manusia. Maka dia bertanggung jawab, adalah pada yang memberi kedaulatan tersebut. Ibaratnya, tanpa diawasipun, seorang raja seharusnya dengan sendirinya tidak melakukan korupsi.

Namun selebihnya saya bersyukur, polemik ini terjadi. Raja kami memang harus melampaui ujian kepemimpinan semacam ini. Beliau Raja Jawa, tentunya lebih tahu apa itu 'rumongso' dibanding kami rakyatnya. Dan kami rakyat yang mencintainya juga diuji kecintaannya, pada jati diri, harkat, dan martabat sebagai bangsa dan manusia. Semoga setelah ini hubungan rakyat Jogja- Keraton-alam Jogja menjadi lebih baik.

Tapi yah, itu kan pendapat saya saja. Tidak bisa dibilang mewakili seluruh Rakyat Jogja. Wong yang dua puluh ribu saja tidak bisa dianggap mewakili dua juta orang, apalagi yang cuma satu. Itu menurut mendagri lho. Jangankan yang massa bebas. Yang 45 wakil formal anggota DPRD DIY saja tidak dianggap. Kata Cak Nun sih, kalau begitu logikanya yang 629 orang wakil rakyat di senayan ya tidak bisa dianggap mewakili 250 juta rakyat Indonesia dong. Apalagi yang cuma 11 orang di Gelora Bung Karno. :)

more

Enak Sekali Negeri Kita ini

"mas kalo mo ngurus SKC syaratnya apa aja?"

sebuah pertanyaan tersebut mengawali obrolan panjang di suatu tempat makan andalan mahasiswa di Yogyakarta. ya, SKCK ini (atau yang lebih panjangnya Surat keterangan catatan Kepolisian) susah-susah gampang mengurusnya. Alur perijinannya mulai dari RT trus ke RW lanjut ke Kelurahan lanjut ke kecamatan dan terakhir ke kepolisian, kalo perlu harus sampai ke POLRES. bayangin jika satu tempat aja kita dikutip Rp. 10.000,- sudah berapa rupiah sendiri kita habiskan? Belum termasuk biaya untuk legalisirnya loh ya...jadi jangan dikira untuk melamar pekerjaan (biasanya PNS) itu gratis ya...

ga sampe urusan itu aja obrolan kami berhenti. lantas seorang kawan pun menyahut: "heran, kenapa ya masih dipake juga SKCK ini." dalam hati ku berpikir, "iya juga ya. hari gini masih aja pake SKCK. toh juga ga pengaruh kalo emang udah dari sononya immoral."

banyak kasus dinegara ini yang carut marut. contohnya saja SKCK ini, heran...kenapa cuma kami yang diwajibkan untuk mencari SKCK, kenapa bapak-bapak yang memegang posisi penting di pemerintahan kita ini tidak pernah memakainya? apakah mentang-mentang kami ini tidak begitu populer, dan warga negara indonesia secara luas tidak mengenal kami, lantas kami diwajibkan untuk membuat SKCK ini? heyyy.... kami masih cinta dengan negeri ini, kami masih takut akan dosa, kami masih harus berpikir 1000x lagi untuk berbuat immoral. sekarang tanyalah bapak-bapak yang berdiri atau duduk disana. apa mereka punya SKCK terbaru? hmmm pastinya tidak.

kenapa saya berani untuk memastikan "tidak"?

okay begini, sebut saja seorang pemimpin salah satu cabang olahraga bernama NH, yang sudah terjerat kasus korupsi dan pernah menyandang pangkat "narapidana" kok masih bisa memimpin? sekarang bandingkan dengan kami, sebelum masuk ke kantoran dan mengenakan nametag kami harus punya SKCK, kalo tidak yaaaa....resiko lamaran tidak diproses pun membayang didepan mata. belum lagi bagi orang yang pernah terkena kasus pidana, dalam SKCK-nya pasti ada cap yang berbeda.  kalo sudah begitu, aduh makkkk, kasihan orang itu, niatan tobat dan hidup bersih pun terganjal masalah SKCK. pupuslah sudah mimpinya untuk menjadi pekerja kantoran, masih mending kalo negara bisa menjamin kehidupan dia berkecukupan. lha ini...boro-boro kecukupan, mo nyari pinjaman di bank pun sudah tidak bisa. nyari gadaian...hey, apa yang bisa dia gadaikan jika dia hanya punya selembar baju dan sejumput berkas bernama IJAZAH? tak habis pikir aku pak...apa lagi sandangan narapidana itu bakalan dibawa sampai dia mati. tambah kasihan aku...

apa sudah terwujud nilai "keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia"
saya rasa belum. karena keadilan berpihak pada mereka yang berkantong tebal dan bergunung-gunung tumpukan hartanya. okay sekarang kita lupakan masalah kesenjangan sosial ini, kita kembali ke masalah CATATAN KEPOLISIAN. jadi apa yang polisi catat di buku hitam mereka untuk pak NH itu? lantas apa yang menpora pikirkan sebelum mengesahkan dia untuk menjadi pemimpin? ahhhhh..... pasti tak lain dan tak bukan soal AMPLOP....ckckckckckckckck

belum lagi kebodohan salah satu parpol yang mencalonkan salah satu mantan tahanan menjadi pimpinan mereka, sebut saja namanya mas T. lha mas T ini dulu pernah terlibat banyak kasus suap, bahkan sampai kasus pembunuhan terencana pun pernah loh. lha sekarang apa yang ada dipikiran mereka ini? mau merusak negara? atau memang mereka melihat bakat kepemimpinan terpendam yang ada dalam diri mereka ini. kalo memang bakat itu ada sih ya gak masalah. lha kalo ndak ada? heyyyyy ternyata ANDA MEMANG BODOH.....!!!!

seharusnya presiden kita menerbitkan peraturan baru yang harus disah kan oleh DPR, tentang tata cara melamar pekerjaan di kantor swasta/departemen pemerintah. Dan atau tentang tata cara pemakaian SKCK buat saja seperti ini;
1. tiap tahun harus diperbaharui. soalnya penggunaan SKCK yang sekarang cuman sekedar formalitas. sekali bikin berlaku selamanya, sedangkan tindak kejahatan itu pasti akan terus ada selama manusia masih bernafas. betoel begitu?
2. sistem penerimaan pun harus dirubah, penggunaan SKCK dalam melamar tetap diwajibkan dan nantinya harus diperbaharui selama mereka masih dalam lingkungan kerja tersebut.
3. pembuatan SKCK harus dirubah. dengan syarat catatan dari pihak kepolisian harus lengkap. saya yakin bahwa data pesakitan tersebut sudah masuk kedalam database kepolisian RI dan bahkan kedalam BADAN INTELEJEN. jadi nantinya dalam pembuatan dan penerbitan SKCK akan tertera tindak pidana dan kejahatan yang pernah dilakukanya. dan bagi yang benar-benar bersih dari tindak pidana tidak akan merasa dicurangi.

ahhhh... tapi apa yang aku ungkapkan disini tak lain hanya akan jadi hiasan didunia maya. ndak bakal banyak berguna bagi negara kita. selama mereka masih mementingkan kekayaan pribadi saja. padahal mereka jelas melanggar UU tentang Badan Usaha Milik Negara. sedih memang tapi kita tak bisa berbuat banyak.

untukmu Indonesiaku, maaf usaha kami untuk merubah sistem hanya sampai disini saja....
more